Musik Tradisional Betawi: Gambang Kromong Rasa Orkestra di Ariah

Musik tradisional Betawi seperti gambang kromong, gamelan ajeng dan tanjidor dipastikan mengisi komposisi musik pertunjukan tari kolosal “Ariah” karya sutradara Atilah Soeryadjaya.

Pagelaran tersebut akan digelar pada 28-30 Juni ini di pelataran Monumen Nasional (Monas) dalam rangkaian perayaan ulang tahun Jakarta ke-486.

Cerita “Ariah” diadaptasi dari kisah rakyat Betawi dengan latar tahun 1869. Alkisah, seorang gadis bernama Ariah dengan berani melawan kekejaman para centeng dan tuan tanah yang kerap menculik dan memerkosa gadis-gadis.

Ariah mendobrak pemahaman yang berkembang pada masanya, bahwa wanita harus berdiam diri di dalam rumah dan hanya boleh keluar untuk pergi mengaji. Bagi Ariah, gadis-gadis perlu belajar ilmu pencak silat untuk membentengi diri dari ancaman dunia luar.

Penata musik “Ariah” Erwin Gutawa menjanjikan pengalaman berbeda kepada masyarakat yang menyaksikan pergelaran ini. Musik tradisional Betawi, kata Erwin, akan dibawakan dengan orkestra — bukan instrumen tradisional.

Gambang kromong, kata Erwin mencontohkan, akan diadaptasi oleh perkusi dari pemain marimba. Kemudian bunyi kendang akan diadaptasi oleh bunyi tomtom dan bunyi tehyan. Di beberapa tempat akan diisi pemain biola. Menurut Erwin, ini merupakan hal baru di Indonesia.

“Kita coba transformasikan yang unik-unik itu masuk ke dalam orkestra yang ketat,” ujar Erwin ketika ditemui di Monas, Jakarta, Senin (24/6).

Proses transformasi musik tersebut, lanjutnya, ia dapati setelah meriset musik Betawi selama 1,5 bulan. Erwin mengaku harus membuka kembali beberapa literatur guna mengetahui pola ritme dan notasi musik betawi hingga menciptakan komposisi musik yang tepat untuk “Ariah”.

Lebih jauh Erwin menuturkan, hal yang cukup menantang dalam pergelaran ini adalah upaya menyamakan komposisi musik dengan jalan cerita. Bahkan untuk penyesuaian tersebut pihaknya harus membuat lagu-lagu baru bernuansa Betawi, yang liriknya dibuat oleh Atilah Soeryadjaya.

Selain itu, untuk mengisi beberapa plot Erwin juga telah mengaransemen beberapa lagu Betawi, misalnya “Onde-onde”. Secara keseluruhan, kata Erwin, “karena ini orkestra maka tetap ada unsur klasiknya, suasana pop dan drama.”

Musik tradisional
Dari hasil persinggungan dengan musik Betawi selama 1,5 bulan ke belakang, rupanya Erwin seperti menemukan kembali daya tarik dari musik tradisional Betawi. Terutama terkait keunikan ritme dan notasi. Musik tradisional harus mendapat tempat yang sesuai seraya tetap memperhatikan perkembangan zaman, katanya.

Sedangkan dari sisi musisi, pendalaman terhadap musik tradisional memberikan dampak positif. Yakni, memberikan dorongan untuk lebih bereksplorasi dan menggali referensi musik sebanyak mungkin. Dengan begitu, seorang musisi tidak terjebak pada musik-musik yang saat ini menjadi tren di pasaran semata.

“Sekarang tinggal bagaimana berkarya supaya punya nilai, jangan hanya bawain lagu yang sudah ada. Musik band semua sudah sama, tinggal kita bikin yang original,”
thumbnail
Judul: Musik Tradisional Betawi: Gambang Kromong Rasa Orkestra di Ariah
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Dunia Seni, Economics and Finance and Information Services in the Market :

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz